Steve Jobs (1955 – 2011)

Truth to be told, I never met him.

Perkenalan saya dengan Dunia Apple adalah ketika pertama kali menggunakan PowerBook 100 Series sekitar 15 tahun yang lalu (tentunya saat itu saya masih di sekolah dasar). Entah bagaimana Ayah saya dapat mendapatkan Notebook Apple tersebut. Keadaan ekonomi yang mendesak memaksa saya untuk meninggalkan dunia komputer. Hingga akhirnya pada tahun 2006 saya mendapatkan kesempatan untuk memiliki Macbook (First Gen – Early 2006). Kesan pertama ketika menyalakan Macbook 2006 tersebut adalah startup sound yang pernah saya dengar 10 tahun sebelumnya.

Macbook dan OS X

Macbook adalah produk yang sangat bagus dari sisi desain. Begitu juga dengan interface OS X dengan font Lucida, Myriad, dan Helvetica adalah ciri khas Apple. Macbook merupakan perpaduan antara seni desain produk dengan teknologi UNIX (OS X). Tidak heran para desainer, penulis, hingga network engineer menggunakan Macbook. Bahkan ketika beberapa kali saya mengikuti training di Thailand dan Malaysia, semua trainer yang saya temui menggunakan Macbook (mulai dari Macbook, Macbook Pro, dan Macbook Air).

Macbook dan OS X bagi SysAdmin dan Network Engineer dapat meningkatkan efisiensi pekerjaan, built-in Terminal adalah salah satu alasan mengapa Macbook dipilih. Lalu, mengapa bukan Linux? Bagi saya, linux masih ribet dan ruwet bagi komputer desktop. Tidak adanya standarisasi yang jelas dan distro yang begitu banyak membuat linux bukan alternatif yang baik untuk desktop.

Alasan lainnya adalah typefaces, pemilihan jenis font dan ukuran pada beberapa distro linux masih tidak eye-catching. Belum lagi aspek rendering font yang tidak terlalu smooth pada Linux. Begitu halnya dengan Windows. Berdasarkan pengamatan pribadi, Apple masih menempati urutan pertama pada pemilihan typefaces untuk sistem operasinya. Kenyamanan dalam membaca teks menjadi poin penting dalam memilih sistem operasi. OS X dan Macbook adalah pilihan yang tepat. Semoga Apple terus dapat berinovasi mengembangkan produknya walaupun tanpa Co-Founder dan CEO, Steve Jobs.

Thank you steve!

 

Mac Startup Sound :

http://www.whitwell.ndo.co.uk/musicthing/sounds/macstartup.mp3

 

 

Penggunaan single vendor dalam suatu infrastruktur IT memiliki kelebihan dibandingkan beberapa vendor. Pertama, tentunya adalah masalah interoperabilitas antara berbagai perangkat walaupun berbeda jenis namun masih satu vendor. Suatu vendor pada umumnya memiliki fitur yang tidak dimiliki oleh vendor lain. Fitur tersebut bisa jadi merupakan fitur kunci yang bersifat proprietary, sehingga produk lain tidak bisa menggunakan fitur sejenis. Bukan tidak mungkin fitur kunci tersebut tidak berjalan dengan baik karena adanya perbedaan vendor karena masalah kompatibilitas.

Kedua, support services yang diberikan oleh vendor. Apabila digunakan dua vendor dalam suatu infrastruktur, dipastikan akan terjadi kesulitan dalam mengkonfigurasi atau maintenance. Perusahaan harus menggunakan jasa support dari masing-masing vendor sehingga menyebabkan biaya services atau maintenance menjadi dua kali lipat.

Open Source sebagai Vendor

Kompatibilitas antara aplikasi open source dan sistem operasi *nix sebagai bagian infrastruktur IT tentunya sudah tidak diragukan lagi selama ada SDM yang mampu mengimplementasikan dan memaintenance sistem. Selain itu aplikasi opensource pada umumnya memiliki interoperabilitas yang tinggi terhadap produk vendor. Sehingga opensource dan single vendor bukan merupakan suatu masalah yang besar. Bahkan memiliki kelebihan dalam cost yang dikeluarkan. 

November 2009 lalu IPv6 engineer google menyatakan akan memprioritaskan google IPv6 pada Youtube [1]. Akhirnya sekarang Youtube telah menjalankan IPv6 secara diam-diam [2].

ini dia yang ditunggu-tunggu :

TCP_MISS/200 37611918 GET http://v4.lscache7.c.youtube.com/videoplayback? – DIRECT/2001:4860:4001:402::19 video/mp4

link terkait :

[1] http://www.networkworld.com/news/2009/112009-google-ipv6-youtube.html

[2] http://www.networkworld.com/news/2010/020110-youtube-ipv6.html

Menjadi sysadmin harus melakukan update dan upgrade suatu sistem secara berkala, namun tidak perlu terlalu sering. Secara istilah, upgrade berarti melakukan perubahan menuju standar yang lebih tinggi untuk meningkatkan performa atau membuat sistem lebih baik. Update adalah membuat sesuatu menjadi lebih modern (up-to-date), update ini biasanya terkait masalah bug fix dan security patch.

Tidak perlu khawatir jika sistem yang diupdate bersifat redundant karena terdapat failover jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Selain itu, dengan adanya sistem redundant proses update dapat dilakukan seamless sehingga tidak perlu announcement kepada user yang menyatakan bahwa sistem akan dimatikan selama beberapa saat karena proses upgrade. Sistem yang redundant biasanya dilakukan update pada salah satu server. Setelah memastikan semua aplikasi berfungsi dengan baik pada server tersebut, lalu update server lainnya.

Bagaimana jika sistem tidak redundant? Proses yang cukup menegangkan. Planning harus dilakukan dengan baik, mempersiapkan backup agar dapat rollback ke sistem sebelumnya, menjadwalkan downtime, dan memberikan announcement kepada user. Satu hal lagi, proses upgrade/update harus dilakukan pada malam hari untuk meminimalisir efek downtime bahkan harus dilakukan tengah malam (weekend pula). Alasannya, pada malam hari dan weekend terdapat lebih sedikit user yang mengakses ketimbang jam kerja. Update pada weekend juga terkadang memberikan waktu yang lebih leluasa karena proses update bisa dilanjutkan besoknya (malam mingguan) jika belum selesai.

Secara teknis, update/upgrade adalah proses umum dengan step-by-step yang sudah jelas sehingga tinggal dilakukan saja (just-do-it). Namun, melakukan upgrade bagi saya seperti ada perasaan yang berbeda dan menegangkan. Bagaimana jika sistem gagal? bagaimana jika ada data yang corrupt?. Walaupun sudah direncanakan dengan baik, tetap saja perasaan tegang tetap muncul. Sehingga, saya tidak lupa untuk membaca Basmallah ketika menekan tombol Enter dengan harapan tidak terjadi sesuatu. :)

Mengapa tekanan batin itu bisa terjadi? Karena saya melakukan upgrade untuk pertama kalinya pada suatu sistem. Teringat pengalaman 3 tahun lalu ketika pertama kali memaintain proxy server yang diakses oleh 4000 user per hari. Untuk melakukan perubahan konfigurasi saja harus penuh kehatian-hatian, diteliti ulang, dan lagi-lagi pada malam hari. Sekarang sih.. siang-siang juga dihajar gan..update..update..update.. :lol:

Saya yakin ini tidak seberapa ketimbang rekan-rekan yang sudah bekerja di dunia telekomunikasi dan industri yang katanya bisa dimarahain customer. ;)

Melihat postingan terakhir saya yang bertanggal 12 November 2008, ternyata hampir satu tahun tidak pernah posting. Selamat berjumpa kembali. Situs ini saya tujukan sebagai “documentation project” untuk hal-hal yang akan dan telah saya lakukan selama ini di depan layar komputer. Beberapa perubahan dalam blog ini, sedikit namun bersifat fundamental (dan filosofis barangkali :p), antara lain :

1. Domain menggunakan dynsrv.info sebagai primary.

2. Tagline ditambahkan “a little bit technical” sebagai dokumentasi dari semua oprekan, pekerjaan, pelajaran, dan apapun yang bersifat “agak sedikit teknis”.

FAQ

Mengapa .info?

Saya googling untuk mencari layanan domain berbayar yang murah. Ternyata salah satu penyedia layanan domain sedang ada diskon untuk .info. Hehe.

Dynsrv.info menggunakan layanan domain mapping dari wordpress seharga $9.97. WordPress dipilih karena cukup reliable dan memang difokuskan untuk menulis, sedangkan oprekan menggunakan dynsrv.co.cc.

Apakah dynsrv?

Alamat DynSrv saat ini adalah dynsrv.co.cc (masih domain gratisan, semoga segera bisa menjadi .net). DynSrv adalah singkatan dari Dynamic Server. Mungkin anda pernah tahu layanan DynDns (Dynamic DNS). DynDns memberikan domain tetap untuk alamat IP yang berubah secara dinamis. Sama halnya dengan Dyndns, Dynsrv memiliki domain tetap untuk keadaan yang dinamis karena state server selalu dinamis.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.