Bubarnya Pendidikan Sekolah Menengah

2008 Juli 5
by Wildan

Maaf kalau judul postingan kali ini agak keras. Tulisan ini juga merupakan postingan lanjutan dari tulisan saya tahun lalu mengenai PSB (Penerimaan Siswa Baru), khususnya Kota Bandung. Semenjak berubahnya sistem NEM menjadi UAN, UAS, atau whatever-lah, Menurut saya, ini adalah awal kehancuran pendidikan sekolah tingkat menengah (SMP dan SMA). Mengapa? Sistem saat ini benar-benar kacau, nilai hasil UAN tidak dapat dipertanggungjawabkan. Nilai rata-rata anda 8 sudah tidak berguna. Mau masuk SMA Negeri aja luntang-lantung.

Menurut anda apakah nilai 80 dari 100 atau 8 dari 10 cukup besar? (Mohon umpan balik pembaca sekalian). Bagi saya, Iya! Sangat besar. Jujur saja, cukup sulit memperoleh nilai 80, apalagi di bangku kuliah (80 bisa dapet A coy!). Sayangnya, nilai 8 dari 10 tersebut sangat tidak berguna sekali apabila teman-teman masih sekolah. Sangat menyedihkan bukan? (udah dapat nilai gede..Eh, taunya gak kepake..cape deh!).

Saya bukannya tidak bangga akan kualitas pendidikan di negeri ini yang cenderung meningkat(?). Hal ini terlihat dari meningkatnya rata-rata nilai UAN. Namun, rasanya masih tidak logis apabila sangat banyak sekali orang yang memperoleh nilai hampir sempurna. Apalagi terdapat rumor fakta yang menyatakan adanya SMS kunci jawaban UAN SMP dan SMA di Kota Bandung. Diatas kertas, pendidikan di negeri ini memang meningkat. Pada kenyataannya ini adalah kebrobrokan luar biasa.

Bagaimana menurut bapak-bapak pejabat Pendidikan Nasional sekalian? Ingin menghancurkan bangsa ini atau memajukan bangsa ini? Sebaiknya ubah sistem sekarang yang terlalu rawan kecurangan. Apalagi katanya 100 Tahun Kebangkitan Nasional. Bangkitlah dengan Kejujuran!

11 Responses leave one →
  1. 2008 Juli 6

    Itu juga yang membuat saya heran melihat hasil UAN murid-murid saya. Rasanya gamang saja melihat nilai 100,80, dan 90 yang bertaburan dimana-mana, bertolak belakang dengan keseharian mereka selama ini dalam KBM di sekolah. Kata rekan guru nilai-nilai tersebut memang hasil konversi, tidaklah nilai murni. Entah lah.

  2. 2008 Juli 6

    rasanya dulu itu kalau dapet nilai Ebtanas SD rata2 9 aja udah sangat bagus (Ebtanas total 45 dari 50) dan nilai 48 skala 60 (rata2 8) waktu SMP ke SMA juga udah sangat bagus (bisa jadi nomer satu di sekolah).

    sekarang emang bener, nilai kok sangat diobral ya. kualitas naik atau soalnya kegampangan? tanya kenapa…

  3. 2008 Juli 6

    keknya soalnya kegampangan dan :mrgreen:

  4. 2008 Juli 7

    gimana mau berubah la wong sekarang dunia pendidikan dijadikan lahan politik dan bisnis. makanya janga heran klau dalam kesehariaan biasa2 aja pas ujian nilainya diatas rata2

  5. 2008 Juli 9

    ga asyik bgt kalo pake dikonversi gitu nilainya..

  6. 2008 Juli 11
    imoRomi permalink

    Di ITebe aja nilai2 dikonversi koq….
    di jurusanku malah lebih parah…
    nilai 54 skala 100 bisa dapet A…
    ngaco dah…

  7. 2008 Juli 17

    Nilai nggak mencerminkan kualitas, juragan ;)

  8. 2008 Juli 19

    @KnightDNA

    setuju bos..gw aja kadang2 ngerasa gak pantes dapet nilai A di beberapa mata kuliah. Hehehe..

  9. 2008 Juli 25

    Ah..Lu ngarepin apa sih kalo sistemnya udah kaco gini?Mending duitnya buat nyekolahin di luar negeri..

    :mrgreen:

    Masalh nilai ga mencerminkan kualitas,setuju banget..Kadang A tapi kacrut, sedangkan D tapi mantab praktikalnya..Tapi di negara ini kualitas masi sering dianggap setara dengan nilai,padahal jelas, orang jagoan di praktikal kadang kacrut di teori,walopun kalo bisa seimbang,tapi lebih baik daripada kacrut praktik,tapi mantab teorinya..Jadi pakar kek Roy sukro aja kalo gitu..

    Crot..

  10. 2008 Agustus 2

    Setuju! Standar nilai itu terlalu tinggi untuk sistem dan sarana pendidikan di negeri kita yang masih acak kadul … Barangkali, penjurusan siswa itu sebaiknya sudah dilakukan sejak masuk bangku SMP.

    Jika hal ini dilakukan, mungkin penetapan standar nilai tinggi masih masuk akal bila diterapkan. Paling tidak, setiap siswa hanya akan memperdalam berbagai program studinya yang sudah sejalan dengan arah pendidikannya ke masa mendatang.

    Menurut saya, sistem pendidikan kita mubazir dan sering membuat siswa menjadi jenuh dan keletihan pada saat belajar. Pikirannya terkuras dan seringkali malah membuat mereka frustrasi dengan tuntutan kewajiban mengejar nilai, ketimbang memahami arah kehidupan yang harus ditempuhnya.

    Sekolah seharusnya tidak semata-mata menjadi tempat bagi para siswa berkenalan dengan beragam ilmu pengetahuan, tapi sekolah seharusnya menjadi sarana bagi siswa untuk mengenal potensi dirinya, mengetahui perencanaan program kehidupannya di masa depannya.

    Sistem sekolah dan pendidikan di Indonesia, menurut hemat saya, masih school oriented, dan bukan student oriented. Artinya, sasaran yang dikejar adalah keberhasilan nama sekolah dan bukan keberhasilan siswa.

    *bongkar sistemnya … bongkar sistemnya sekarang juga … sekarang juga …*

  11. 2008 Agustus 17

    100 itu milik ALLAH … jadi berapa yang pantas untuk manusia yah?

Leave a Reply

Note: You can use basic XHTML in your comments. Your email address will never be published.

Berlangganan umpan komentar ini melalui RSS